jump to navigation

sistem informasi yang handal di Dikes kab.Bima tahun 2010 8 Januari 2008

Posted by SIMKES UGM 2007 in Pengalaman dari Daerah, Sistem Informasi Kesehatan.
trackback
VISI :
SISTEM INFORMASI YANG HANDAL DIKES KAB. BIMA TAHUN 2010

MISI :

1. Mengembangkan pengelolaan data yang meliputi pengumpulan, penyimpanan, pengolahan, dan analisis data.

2. Mengembangkan pengemasan data dan informasi dalam bentuk Bank Data, profil kesehatan, dan kemasan-kemasan informasi khusus

3. Mengembangkan jaringan kerja sama (kemitraan) dalam pengelolaan data dan informasi kesehatan

4. Mengembangkan pendayagunaan data dan informasi kesehatan

STRATEGI/10 LANGKAH PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN DAERAH (SIKDA)

Prinsip Dasar Sistem Kesehatan Daerah :

  1. Perlunya dikenali dengan benar pemakai (konsumen) dari informasi yang akan dihasilkan oleh SIKDA
  2. Perlunya diidentifikasi dengan tepat perilaku pemakai (Konsumen) yang berkaitan dengan pemakai informasi. Terutama proses pengambilan keputusan yang dilakukan dalam manajemen kesehatan (baik manajemen pasien/klien, manajemen unit, maupun manajemen system kesehatan).
  3. Perlunya diidentifikasi dan disusun kebutuhan informasi dari para pemakai (konsumen) berkaitan dengan pengambilan keputusan yang dilakukannya.
  4. Perlunya dipertimbangkan untuk memulai pengambangan SIKDA secara bertahap dimulai dengan menyediakan informasi untuk memenuhi kebutuhan minimal. Untuk itu perlu dicapai kesepakatan antara pengelola SIK dengan pemakai informasi tentang Kebutuhan Informasi Yang Minimal.
  5. Perlunya diperhatikan keterpaduan dalam pencatatan dan pelaporan data agar tidak memberatkan para pelaksana, sehingga kualitas data dapat dijamin.

Atas dasar tersebut ada beberapa tahapan pelaksanaan pengembangan sistem informasi kesehatan daerah yang dapat dilakukan di dinas kesehatan kabupaten Baima yaitu :

1. IDENTIFIKASI DAN TELAAH MANAJEMEN KESEHATAN

Langkah ini berisi dua kegiatan yaitu : Mengenali siapa manajer-manajer kesehatan dan telaah terhadap praktik-praktik manajemen yang mereka lakukan. Sebagaimana telah dikemukakan diatas, para manajer dibidang kesehatan mencakup semua petugas kesehatan, semua pimpinan unit kesehatan, dan mereka yang berpengaruh terhadap sector kesehatan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan kedua adalah berupa analisis fungsi-fungsi manajemen system kesehatan terutama di puskesmas, rumah sakit, dan dinas kesehatan. Fungsi-fungsi manajemen ini kemudian didaftar dan diurutkan sesuai dengan prioritasnya.

2. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN INFORMASI DAN PENETAPAN INDIKATOR.

Dengan telah diketahuinya fungsi-fungsi manajemen prioritas yang harus didukung oleh SIK, maka langkah berikutnya adalah mengidentifikasi kebutuhan informasi. Yaitu mengkaji informasi apa saja yang dibutuhkan oleh para manajer kesehatan agar mereka dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajernya dengan baik. Informasi ini adalah berupa kalimat yang bersifat kualitatif. Apabila kebutuhan informasi telah dapat disusun, maka langkah selanjutnya adalah menerjemahkan setiap informasi tersebut kedalam bentuk indikatornya. Indikator adalah penunjuk yang secara kuantitatif dapat mewakili suatu informasi. Penetapan indicator tidak dapat dilakukan sendiri oleh pengelola SIK, melainkan harus didiskusikan dengan manajer kesehatan yang akan dilayaninya, sehingga diperoleh kesepakatan.

3. PENETAPAN KEBUTUHAN DATA DAN PENCATATAN SERTA PELAPORANNYA

Apabila indikator-indikator telah disepakati dan ditetapkan, maka menjadi mudahlah tahap penetapan kebutuhan data. Kecuali indicator yang berupa angka absolut, indikator-indikator umumnya merupakan hasil perhitungan statistik antara pembilang (nominator) dan penyebut (denominator). Oleh karena itu, data biasanya berupa jumlah yang dihasilkan dari pengamatan, pengukuran dan penghitungan terhadap sesuatu. Setelah didapat daftar data yang dibutuhkan, maka untuk setiap data kemudian ditetapkan cara pengumpulannya. Secara umum dapat dibedakaqn adanya dua kategori data yaitu : (1) data yang dapat diperoleh melalui pencatatan dan pelaporan rutin puskesmas dan rumah sakit (facility based data), dan (2) data yang hanya dapat diperoleh melalui cara pengumpulan sewaktu-waktu, terutama dari masyarakat (community based data), yaitu misalnya melalui sensus, survey, dll.

Pelaksanaan pencatatan dan pelaporan di puskesmas diatur lebih lanjut dalam petunjuk tekhnis system pencatatan dan pelaporan puskesmas (SP2TP). Pelaksanaan pelaporan di rumah sakit diatur lebih lanjut dalam petunjuk tekhnis pelaporan rumah sakit. Namun demikian, walaupun petunjuk tekhnis tersebut berupa keputusan menteri kesehatan, tetapi sebaiknya daerah diterbitkan dasar hokum setempat, misalnya keputusan Bupati, kepala dinas. Hal ini sekaligus untuk menampung kebutuhan-kebutuhan spesifik setempat, karena keputusan menteri kesehatan tidak bersifat generik (berlaku umum

4. REKRUTMEN TENAGA PURNA WAKTU PENGELOLA SIK.

Tenaga purna waktu untuk mengelola SIK sangat penting adanya. Pengalaman diwaktu yang lalu, bahkan sampai pun saat ini, tiadanya tenaga purna waktu yang mengelola SIK merupakan kendala yang cukup bermakna. Apalagi di unit-unit pelayanan kesehatan dasar seperti puskesmas. Memang, tugas pencatatan data dilakukan oleh petugas-petugas kesehatan (dokter, perawat, bidan, sanitarian, dan lain-lain) dan petugas-petugas administrasi sebagai bagian dari tugas pelayanannya. Tetapi untuk proses selanjutnya, yaitu pengolahan data dan pembuatan laporan, sebaiknya terdapat petugas khusus, sehingga para petugas kesehatan dan administrasi tidak terlalu terganggu pelaksanaan tugas pokoknya.

Paling tidak terdapat empat jenis tenaga fungsional yang diperlukan untuk pengelolaan SIK yaitu perekam medic, statistic, pranata computer dan epidemiologi. Namun untuk puskesmas saat ini kiranya cukup bila ada seorang tenaga fungsional SIK yang bekerja purna-waktu disetiap puskesmas. Tenaga fungsional ini bias perekam medik, atau pranata computer, atau epidemiologi. Tambahan pengetahuan dan keterampilan lain dapat diberikan kepadanya melalui pelatihan.

5. PENGADAAN PERANGKAT KERAS DAN LUNAK KOMPUTER

Pengadaan perangkat keras dan perangkat lunak bukanlah sesuatu yang wajib, karena selain tersedianya dana yang cukup, juga terdapat factor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan yaitu :

  • Kerumitan analisis
  • Berfungsinya system yang ada
  • Volume data yang diolah
  • Tenaga pengelola computer

Jika keputusan telah diambil untuk mengadakan computer hal yang perlu diperhatikan :

  • Komputer Mikro
  • Tenaga Listrik
  • Printer
  • Jaringan
  • Modem
  • Penyimpan cadangan data

Sedangkan untuk perangkat lunaknya yaitu perangkat lunak SIK puskesmas, rumah sakit dan dinas kesehatan.

6. PENGUMPULAN DATA DASAR PUSKESMAS

Pengumpulan data dasar puskesmas dilakukan dengan menggunakan kartu rekam keluarga. Tujuannnya untuk membuat pangkalan data di puskesmas yang berisi data tentang keluarga yang ada diwilayah pelayanan puskesmas.

7. PELATIHAN PEJABAT FUNGSIONAL PENGELOLA SIK.

Selain pelatihan dasar, seorang pejabat fungsional SIK juga harus diberi pelatihan-pelatihan lain. Pelatihan utama yang harus diberikan adalah tentang bagaimana mengelola data, khususnya tentang pengolahan data, analisis, pengemasan informasi dan penyajian informasi.

8. PEMBUATAN PANGKALAN DATA

Pangkalan data adalah kumpulan data yang dihimpun dengan cara-cara tertentu, sehingga memudahkan dalam proses penemuan kembali data tertentu yang diperlukan.

9. PENETAPAN DAN PEMBERLAKUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN.

Untuk menjamin penggunaan yang optimum terhadap sumber-sumber daya yang ada dalam mendukung proses menghasilkan informasi. Peraturan perundangan yang diperlukan berupa :

  • Aturan untuk manajemen SIK secara menyeluruh
  • Standart untuk pengumpulan data
  • Aturan dalam rangka pengiriman dan pengolahan data serta pelaporan
  • Aturan berkaitan dengan kerahasiaan dan privacy

  • Aturan dan standart berkaitan dengan pelatihan
  • Aturan tentang pengadaan dan distribusi peralatan dan bahan Aturan yang berkaitan dengan jaminan mutu.

10. OPERASONALISASI SIKDA DAN PENGEMBANGANNYA.

Apabila peraturan perundang-undangan yang diperlukan telah dibuat dan diberlakukan, maka SIK pun telah dapat berjalan. Telah dapat melaksanakan pengolahan data, analisis data, pengembangan informasi dan penyajian informasi. Maka datanglah saatnya disiapkan perangkat untuk pemantauan dan evaluasi, khususnya oleh dinas kesehatan terhadap pelaksanaan SIK puskesmas dan SIK rumah sakit.

POSTING BY: M. FARID

 

Komentar»

1. HARIS. N - 8 Januari 2008

BAGUS JUGA NIH BOS

2. putra - 22 Februari 2008

terima kasih atas info2 yg sudah diberikan, tulisan ini sangat berarti bagi saya dan teman saya yang sedang menekuni masalah ini.

3. wawan - 22 Februari 2008

aku sangat tertarik sekali setelah membaca ini. good luck deh untuk penulisnya.

4. Budileo - 9 Maret 2008

Konsep sistem yg profesionak. Terimakasih buat penulis. Saya terinspirasi dan banyak belajar dari artikel tersebut

5. Azis - 10 April 2008

Sangat bagus, tapi bukan dalam wacana saja kalau bisa dan harus di jalankan supaya kabupaten bima ini benar-benar menjadi maju selangkah dari pada kemarin untuk itu mudah-mudahan semuanya bisa menjalankannya secara konsekwen.

6. Endang Sri Suiyanti - 21 April 2008

saya sangat respek dengan scedule program seperti ini, semoga dapat direalisasikan dengan cepat. karena program ini sangat empengaruhi perkembangan sistem informasi suatu daerah. mudaha-mudahan dengan adanya program seperti ini bisa didukung oleh SDM IT yang bisa profesional………….
maju terus bima seiring perkembangan teknologi yang semakin marak.
kebetulan saya orang IT juga, jadi saya sangat support
trims

7. chayank - 11 Mei 2009

mudah2n g ad mslh kdpanx.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: