jump to navigation

Sistem Informasi Kesehatan pada saat bencana 17 September 2007

Posted by SIMKES UGM 2007 in Uncategorized.
trackback

Judul asli (Health information system ini humanitarian emergencies, penulis Michel Thieren, Buletin of WHO 2005:83:584-589)

disarikan oleh kelp II ( Eka, Haris, Kartiawan, L Marzuki, Susilo W)

Berbicara mengenai sistem informasi kesehatan pada saat keadaan darurat selalu dihadapkan pada dua sisi. Informasi penting untuk dipahami sebagai respon saat terjadi krisis kemanusiaan harus disajikan tepat waktu dan detil, tapi di saat yang sama informasi juga tak mudah untuk dikumpulkan. Membangun sistem kerja dan memberikan defenisi yang sistemik di saat keadaan darurat diperlukan untuk menghasilkan sebuah sistem informasi. Sekarang bagaimana menampilkan keragaman pengumpulan data tadi sebagai kontribusi dalam menyediakan informasi apa yang dibutuhkan oleh mereka yang peduli terhadap masalah kemanusiaan untuk mencapai target yang mereka tetapkan. Untuk bisa berfungsi sebagaimana yang diharapkan pada saat keadaan bencana dibutuhkan keterpaduan dan keikutsertaan dari tokoh kemanusiaan yang mampu untuk bisa mengkoordinir data yang telah dimiliki dan mendistribusikannya ke banyak lembaga kemanusiaan. Sebagai catatan, koordinasi sangat tergantung pada kekuatan dan kehadiran sebuah wadah yang kuat seperti halnya WHO, yang memiliki komitmen jelas dalam menginvestivigasi dari mana sumber data berasal.

Sayangnya yang terjadi adalah banyak HIS tidak lengkap dan sering menggambarkan statistik yang berlawanan sehingga pendekatan kemanusiaan tadi pun tidak mengena ke sasaran. Untuk menghindari masalah seperti ini diharapkan statistik harus cermat dan koordinasi dalam proses auditing sebaiknya menjadi hal yang diprioritaskan. Langkahnya bisa dengan cara menggambarkan penghasil rantai data antara teknis dan operasionalnya dan membuat indikasi yang jelas memiliki batas dan asumsi yang digunakan. Akhirnya bagi lembaga kemanusiaan pun mereka bisa diyakinkan akan arti pentingnya menyelamatkan data di suatu tempat untuk melindungi kerahasiaan korban dan kelompok minoritas pada konteks politik yang sensitif.

 


Menghasilkan informasi kesehatan adalah sebuah fungsi yang penting dalam sistem kesehatan, bisa dikatakan bahwa “ini merupakan hal yang paling utama dari sebuah sistem kesehatan saat terjadi bencana.” Institusi kesehatan masyarakat merupakan pelayanan dasar, umumnya berdiri sendiri yang kehadirannya merupakan pekerjaan beskala nasional; informasi yang dihasilkan dari sebuah lembaga biasanya menggunakan review program yang sedang berjalan, walaupun memang berlandaskan kepada sebuah keputusan. Ini mau diteruskan, dirubah atau tetap dengan menjalankan program yang ada saat ini. Karena sistem informasi biasanya tidak terpadu, konsekuensinya adalah data yang telah dihasilkan oleh suatu sistem kesehatan ini jadi non integrasi, sering tidak lengkap, tidak bisa diagregasi dan tidak sesuai untuk menaksir sebuah kebutuhan.

Pada saat kondisi terjadinya bencana memang sulit mengumpulkan data, padahal informasi harus dimiliki, juga harus tepat waktu dan detil khususnya saat datang pertanyaan yang begitu tajam, seperti “Apa status kesehatan dari korban yang terkena? Di mana dan siapa saja mereka, apa resiko jangka panjang dan sekarang yang mereka alami, sumber daya apa yang tersedia dan apa yang mereka butuhkan, apa yang paling penting? Dan seberapa banyak itu dibutuhkan?” Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut sistem informasi kesehatan pada kondisi darurat harusnya bisa harmonis dengan semua tokoh atau pelaku yang terlibat dalam kegiatan kemanusiaan termasuk keikutsertaan penduduk setempat yang diyakini dapat meneruskan program ini saat krisis telah berlalu.

Walaupun literatur dari pelayanan kesehatan memperlihatkan pemahaman yang baik terhadap masalah yang terhubung ke HIS, tidak jarang masalah ini dipandang secara eksplisit, tetapi bagaimanapun juga tidak bisa dipungkiri bahwa Health Metrics Network (HMN) yang merupakan kelompok stakeholder akan bersama-sama menemukan solusi inovatif untuk masalah HIS ini.

Menentukan out came/dampak dari masalah, memberikan arah untuk HIS bahwa semua memang terasa asing bagi tokoh kemanusiaan saat keadaan darurat; situasi ini sering diikuti dengan tidak mungkin rasanya menentukan jumlah masyarakat yang terkena dampak tanpa bantuan dari pihak luar, pertanyaan yang muncul akan seperti :

  • Bagaimana seharusnya struktur HIS saat bencana?
  • Informasi apa yang dibutuhkan dan bagaimana informasi tersebut bisa dikumpulkan pada saat bencana terjadi?
  • Bagaimana dalam prakteknya, apa bisa data yang telah dikumpulkan itu tetap ada?
  • Apakah data yang telah dikumpulkan tadi mampu berfungsi untuk mereka yang perduli pada kemanusiaan secara terintegrasi dan terkoordinasi?
  • Lalu bagaimana dengan informasi politik yang begitu sensitif bisa dipilah.

Kerangka Kerja HIS saat terjadi bencana

Tiga elemen dasarnya :

  1. Apa yang membuat sistem itu ?
  2. Bagaimana sistem itu bekerja ?
  3. Untuk alasan apa sistem itu dilakukan? 

 

Kerja sama antara HMN dan stakeholder menghasilkan rumusan yaitu HIS saat bencana terjadi adalah sekumpulan data dasar yang telah diimplementasikan dengan kerjasama dari kelompok-kelompok kemanusiaan yang menghasilkan informasi untuk mendukung keputusan strategis, monitoring perubahan, membuat priorias utama dan mengalokasikan sumber daya, penyusunan program dan advokasi.

Informasi yang dibutuhkan dan metode pengumpulan data

Memperlihatkan prioritas yang dibutuhkan dan bantuan dalam mengalokasikan sumber daya yang dimiliki. HIS saat bencana terjadi harusnya terfokus pada kuantitas jarak/gap antar sektor kesehatan. Sebagai contoh sampai hari ini, rata-rata terjadi kekurangan gizi sebesar 20% di Sudan, padahal saat 15 tahu lalu Operasi Penyelamatan Sudan sudah mendapatkan penanganan dari tenaga kemanusian, tapi tetap saja merupakan angka yang normal di negara itu. Untuk menghadapi masalah ini seharusnya HIS membuat statistik kesehatan dengan level yang bervariasi untuk data agregat dan menganalisis pada konteks yang sebenarnya, HIS seharusnya focus pada langkah perubahan saja dan mengidentifikasi menurunnya pendapatan di negara itu.

Pada tahap akut sebuah bencana, HIS membutuhkan penegasan perangkat indicator minimal dan gambaran populasi seperti tingkat kematian yang tajam antara anak balita, penyakit epidemis, status gizi, kemananan makanan, akses ke sumber air minum dan sanitasi, jumlah orang yang terjangkit dan yang kehilangan tempat tinggal. HIS seharusnya bisa menyediakan informasi penting yang dibutuhkan. Parameter ini merupakan alat yang penting untuk menghitung besarnya suatu bencana. Pada langkah awal latar belakang informasi, teknik perencanaan yang cepat, survey kematian dan gizi, survailans penyakit dan penyediaan obat serta penyediaan alat kesehatan , merupakan alat bantu yang sangat dibutuhkan untuk suatu HIS yang baik. Alat bantu yang cepat biasanya terdiri dari aturan standar yang berisi informasi dari item yang akan dikumpulkan atau diverifikasi. Keputusan mereka biasanya dipicu untuk melakukan langkah intervensi dan skala apa, menyediakan tuntunan awal dari alokasi sumber daya, dan bantuan dalam desain program dan perencanaan. Informasi survailans penyakit adalah menyediakan fasilitas kesehatan atau sebuah fasilitas surveilans sentinel bisa menjembatani dalam pelaporan penyakit baik harian atau mingguan, dengan menggunakan standar pelaporan. Laporan layanan laboratorium biologi mengkonfirmasi kasus-kasus seperti kholera atau thypoid.

Koordinasi dan integrasi dari HIS saat Bencana

Untuk menyatukan aspek pada HIS seringkali hilang ketika menghadapi bencana, pertama hal ini bisa disebabkan karena perasaan yang tidak sama untuk berkolaborasi. Yang kedua karena kelompok penyelamat memakai informasi mereka sendiri-sendiri untuk memastikan penyumbang memberikan dukungan pada program mereka. Bagaimanapun sebuah informasi bermula dengan adanya sebuah alur dan membutuhkan data agregat dari sumber yang berbeda yang berasal dari korban bencana. Harusnya kelompok ini mempunyai tanggung jawab untuk berkoordinasi dengan variasi data yang berbeda-beda . Sukses tidaknya sebuah koordinasi HIS terletak pada suatu pertanyaan politis dan teknik kepemimpinan, kemampuan negosiasi dan kompetensi yang juga menjadi dasar partisipasi seluruh kelompok di mana metodologi dan aspek implementasinya adalah menghasilkan data. Saat pemerintah mungkin dalam posisi lemah, WHO idealnya bisa menjembatani akan hal ini, karena kemampuan/kapasitas organisasi tersebut tentu berbeda dari krisis yang satu ke krisis yang lain.

Penyebaran Prosedur

Biasa terjadi data kesehatan saat terjadi bencana sering tanpa kecermatan, sehingga data yang ditampilkan tidak asli dan tidak valid, walaupun tidak dibutuhkan sekali ferifikasi ilmiah untuk publikasi, namun tetap saja harus diadopsi dari dari publik, ini akan menjadi kasus yang penting karena untuk data agregat dibutuhkan seperti penyebab kematian, berapa yang terluka, masyarakat yang kehilangan tempat tinggal tanpa akses makanan dan pelayanan kesehatan.

Audit data menyediakan informasi pada proses pengambilan dari beberapa langkah berbeda. Rantai produksi ini dimulai dari pengumpulan data, pertanyaan seperti apakah definisi dari alokasi itu? Apa alat Bantu yang dibutuhkan? Apa kegagalan yang sering terjadi, dengan asumsi bisakah angka tersebut dipergunakan, dan siapa yang bisa melakukan penghitungan?

Berbicara mengenai sistem informasi kesehatan pada saat keadaan darurat selalu dihadapkan pada dua sisi. Informasi penting untuk dipahami sebagai respon saat terjadi krisis kemanusiaan harus disajikan tepat waktu dan detil, tapi di saat yang sama informasi juga tak mudah untuk dikumpulkan. Membangun sistem kerja dan memberikan defenisi yang sistemik di saat keadaan darurat diperlukan untuk menghasilkan sebuah sistem informasi. Sekarang bagaimana menampilkan keragaman pengumpulan data tadi sebagai kontribusi dalam menyediakan informasi apa yang dibutuhkan oleh mereka yang peduli terhadap masalah kemanusiaan untuk mencapai target yang mereka tetapkan. Untuk bisa berfungsi sebagaimana yang diharapkan pada saat keadaan bencana dibutuhkan keterpaduan dan keikutsertaan dari tokoh kemanusiaan yang mampu untuk bisa mengkoordinir data yang telah dimiliki dan mendistribusikannya ke banyak lembaga kemanusiaan. Sebagai catatan, koordinasi sangat tergantung pada kekuatan dan kehadiran sebuah wadah yang kuat seperti halnya WHO, yang memiliki komitmen jelas dalam menginvestivigasi dari mana sumber data berasal.

Sayangnya yang terjadi adalah banyak HIS tidak lengkap dan sering menggambarkan statistik yang berlawanan sehingga pendekatan kemanusiaan tadi pun tidak mengena ke sasaran. Untuk menghindari masalah seperti ini diharapkan statistik harus cermat dan koordinasi dalam proses auditing sebaiknya menjadi hal yang diprioritaskan. Langkahnya bisa dengan cara menggambarkan penghasil rantai data antara teknis dan operasionalnya dan membuat indikasi yang jelas memiliki batas dan asumsi yang digunakan. Akhirnya bagi lembaga kemanusiaan pun mereka bisa diyakinkan akan arti pentingnya menyelamatkan data di suatu tempat untuk melindungi kerahasiaan korban dan kelompok minoritas pada konteks politik yang sensitif.

 


Menghasilkan informasi kesehatan adalah sebuah fungsi yang penting dalam sistem kesehatan, bisa dikatakan bahwa “ini merupakan hal yang paling utama dari sebuah sistem kesehatan saat terjadi bencana.” Institusi kesehatan masyarakat merupakan pelayanan dasar, umumnya berdiri sendiri yang kehadirannya merupakan pekerjaan beskala nasional; informasi yang dihasilkan dari sebuah lembaga biasanya menggunakan review program yang sedang berjalan, walaupun memang berlandaskan kepada sebuah keputusan. Ini mau diteruskan, dirubah atau tetap dengan menjalankan program yang ada saat ini. Karena sistem informasi biasanya tidak terpadu, konsekuensinya adalah data yang telah dihasilkan oleh suatu sistem kesehatan ini jadi non integrasi, sering tidak lengkap, tidak bisa diagregasi dan tidak sesuai untuk menaksir sebuah kebutuhan.

Pada saat kondisi terjadinya bencana memang sulit mengumpulkan data, padahal informasi harus dimiliki, juga harus tepat waktu dan detil khususnya saat datang pertanyaan yang begitu tajam, seperti “Apa status kesehatan dari korban yang terkena? Di mana dan siapa saja mereka, apa resiko jangka panjang dan sekarang yang mereka alami, sumber daya apa yang tersedia dan apa yang mereka butuhkan, apa yang paling penting? Dan seberapa banyak itu dibutuhkan?” Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut sistem informasi kesehatan pada kondisi darurat harusnya bisa harmonis dengan semua tokoh atau pelaku yang terlibat dalam kegiatan kemanusiaan termasuk keikutsertaan penduduk setempat yang diyakini dapat meneruskan program ini saat krisis telah berlalu.

Walaupun literatur dari pelayanan kesehatan memperlihatkan pemahaman yang baik terhadap masalah yang terhubung ke HIS, tidak jarang masalah ini dipandang secara eksplisit, tetapi bagaimanapun juga tidak bisa dipungkiri bahwa Health Metrics Network (HMN) yang merupakan kelompok stakeholder akan bersama-sama menemukan solusi inovatif untuk masalah HIS ini.

Menentukan out came/dampak dari masalah, memberikan arah untuk HIS bahwa semua memang terasa asing bagi tokoh kemanusiaan saat keadaan darurat; situasi ini sering diikuti dengan tidak mungkin rasanya menentukan jumlah masyarakat yang terkena dampak tanpa bantuan dari pihak luar, pertanyaan yang muncul akan seperti :

  • Bagaimana seharusnya struktur HIS saat bencana?
  • Informasi apa yang dibutuhkan dan bagaimana informasi tersebut bisa dikumpulkan pada saat bencana terjadi?
  • Bagaimana dalam prakteknya, apa bisa data yang telah dikumpulkan itu tetap ada?
  • Apakah data yang telah dikumpulkan tadi mampu berfungsi untuk mereka yang perduli pada kemanusiaan secara terintegrasi dan terkoordinasi?
  • Lalu bagaimana dengan informasi politik yang begitu sensitif bisa dipilah.

Kerangka Kerja HIS saat terjadi bencana

Tiga elemen dasarnya :

  1. Apa yang membuat sistem itu ?
  2. Bagaimana sistem itu bekerja ?
  3. Untuk alasan apa sistem itu dilakukan?

Kerja sama antara HMN dan stakeholder menghasilkan rumusan yaitu HIS saat bencana terjadi adalah sekumpulan data dasar yang telah diimplementasikan dengan kerjasama dari kelompok-kelompok kemanusiaan yang menghasilkan informasi untuk mendukung keputusan strategis, monitoring perubahan, membuat priorias utama dan mengalokasikan sumber daya, penyusunan program dan advokasi.

Informasi yang dibutuhkan dan metode pengumpulan data

Memperlihatkan prioritas yang dibutuhkan dan bantuan dalam mengalokasikan sumber daya yang dimiliki. HIS saat bencana terjadi harusnya terfokus pada kuantitas jarak/gap antar sektor kesehatan. Sebagai contoh sampai hari ini, rata-rata terjadi kekurangan gizi sebesar 20% di Sudan, padahal saat 15 tahu lalu Operasi Penyelamatan Sudan sudah mendapatkan penanganan dari tenaga kemanusian, tapi tetap saja merupakan angka yang normal di negara itu. Untuk menghadapi masalah ini seharusnya HIS membuat statistik kesehatan dengan level yang bervariasi untuk data agregat dan menganalisis pada konteks yang sebenarnya, HIS seharusnya focus pada langkah perubahan saja dan mengidentifikasi menurunnya pendapatan di negara itu.

Pada tahap akut sebuah bencana, HIS membutuhkan penegasan perangkat indicator minimal dan gambaran populasi seperti tingkat kematian yang tajam antara anak balita, penyakit epidemis, status gizi, kemananan makanan, akses ke sumber air minum dan sanitasi, jumlah orang yang terjangkit dan yang kehilangan tempat tinggal. HIS seharusnya bisa menyediakan informasi penting yang dibutuhkan. Parameter ini merupakan alat yang penting untuk menghitung besarnya suatu bencana. Pada langkah awal latar belakang informasi, teknik perencanaan yang cepat, survey kematian dan gizi, survailans penyakit dan penyediaan obat serta penyediaan alat kesehatan , merupakan alat bantu yang sangat dibutuhkan untuk suatu HIS yang baik. Alat bantu yang cepat biasanya terdiri dari aturan standar yang berisi informasi dari item yang akan dikumpulkan atau diverifikasi. Keputusan mereka biasanya dipicu untuk melakukan langkah intervensi dan skala apa, menyediakan tuntunan awal dari alokasi sumber daya, dan bantuan dalam desain program dan perencanaan. Informasi survailans penyakit adalah menyediakan fasilitas kesehatan atau sebuah fasilitas surveilans sentinel bisa menjembatani dalam pelaporan penyakit baik harian atau mingguan, dengan menggunakan standar pelaporan. Laporan layanan laboratorium biologi mengkonfirmasi kasus-kasus seperti kholera atau thypoid.

Koordinasi dan integrasi dari HIS saat Bencana

Untuk menyatukan aspek pada HIS seringkali hilang ketika menghadapi bencana, pertama hal ini bisa disebabkan karena perasaan yang tidak sama untuk berkolaborasi. Yang kedua karena kelompok penyelamat memakai informasi mereka sendiri-sendiri untuk memastikan penyumbang memberikan dukungan pada program mereka. Bagaimanapun sebuah informasi bermula dengan adanya sebuah alur dan membutuhkan data agregat dari sumber yang berbeda yang berasal dari korban bencana. Harusnya kelompok ini mempunyai tanggung jawab untuk berkoordinasi dengan variasi data yang berbeda-beda . Sukses tidaknya sebuah koordinasi HIS terletak pada suatu pertanyaan politis dan teknik kepemimpinan, kemampuan negosiasi dan kompetensi yang juga menjadi dasar partisipasi seluruh kelompok di mana metodologi dan aspek implementasinya adalah menghasilkan data. Saat pemerintah mungkin dalam posisi lemah, WHO idealnya bisa menjembatani akan hal ini, karena kemampuan/kapasitas organisasi tersebut tentu berbeda dari krisis yang satu ke krisis yang lain.

Penyebaran Prosedur

Biasa terjadi data kesehatan saat terjadi bencana sering tanpa kecermatan, sehingga data yang ditampilkan tidak asli dan tidak valid, walaupun tidak dibutuhkan sekali ferifikasi ilmiah untuk publikasi, namun tetap saja harus diadopsi dari dari publik, ini akan menjadi kasus yang penting karena untuk data agregat dibutuhkan seperti penyebab kematian, berapa yang terluka, masyarakat yang kehilangan tempat tinggal tanpa akses makanan dan pelayanan kesehatan.

Audit data menyediakan informasi pada proses pengambilan dari beberapa langkah berbeda. Rantai produksi ini dimulai dari pengumpulan data, pertanyaan seperti apakah definisi dari alokasi itu? Apa alat Bantu yang dibutuhkan? Apa kegagalan yang sering terjadi, dengan asumsi bisakah angka tersebut dipergunakan, dan siapa yang bisa melakukan penghitungan?

Komentar»

1. anis - 19 September 2007

Mohon dituliskan judul asli artikel, pengarangnya, nama jurnal dan edisinya, serta link nya ya..

Terima kasih.

2. SIMKES UGM 2007 - 19 September 2007

Terima kasih masukannya untuk kelompok kami.Kami sudah tampilkan judul aslinya, pengarangnya, nama jurnal dan edisi serta halamannya. Tapi kami belum bisa link-nya. Maksudnya link ke mana ? Mohon bantuannya, atau barangkali ada teman-teman SIMKES yang mau membantu kami akan sangat senang sekali. Makasih… Susilo dkk

3. anis - 21 September 2007

Maksud saya, masukkan link ke alamat asli artikel tersebut.
Daftar isi Bulletin WHO 2005 83:8

http://www.who.int/bulletin/volumes/83/8/en/index.html
Artikel asli (dalam format pdf):
http://www.who.int/entity/bulletin/volumes/83/8/597.pdf


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: